This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 05 Januari 2014

resume upaya menilik bidayah hingga nihayah al-hikam al-muta'aliyah

Pengantar

Allamah Muhammad husein thabathabai (1321-1482 h/1904-2982 m) tak ayal lagi merupakan salah satu tonggak yang berdiri dalam sejarah pemikiran islam. Siapa saja yang menampak –tilas khazanah pemmikiran islam tentu dengan mudah akan menemukan Allamah Thabathabai menyala terang disana.karya-karyanya membentang meliputi tafsir,firsafat hikmah,hingga anotasi ensiklopedia hadis bihar al-anwar menunjukan keluasan dan kedalaman ilmunya yang berasal dari Tabriz.tapi , keluasan dan kedalaman ilmunya sebenarnya kecil belaka bila dibandingkan dengan karakter moral, sikap keulamaan dan prilaku asketik yang terpancar dari kehidupan Allamah Thabathabai – suatu integritas yang tampak kian jauh dari dunia kesarjanaan modern.

Kita membahas dua karyanya dalam bidang firsafat, yakni Bidayah al-Hikmah dan Nihayah al-Hikmah :
v  BIDAYAH DAN NIHAYAH

Menurut kamal Haydari, salah satu langkah awal Allamah dalam melembagakan pendidikan firsafat islam di hauzah qom ialah menyusun dua buku daras yang sejalan dengan kaidah-kaidah filsafat al-hikmah al-muta’aliyah (baca: filsafat hikmah ). Bidayah ditawarkan sebagai alternative atas Syarh  Al-Manzhumah karya mulla hadi sabzawari dan nihayah sebagai alternative atas Al-Asfar sama-sama merupakan merupakan buku babon yang jauh berteleh-tele dan rinci ketimbang Bidayah dan Nihayah.

Untuk melukiskan keberhasilan Allamah dalam konteks ini, kita dapat melihat bagaimana nihayah yang dia tulis untuk merangkum 9 jilid Al-Asfar mampu dia tuangkan dalam 330 halaman, dan itu artinya lebih ringkas dari satu jilid Al-Asfar. Sementara  Bidayah ditulisnya dalam 180 halaman, jauh lebih sedikit dari jumlah halaman syarh al-manzhumah . menariknya, meski tidak mencakup seluruh tema penting yang terdedah dalam al-asfar , bidayah dan nihayah berhasil merangkum pokok-pokok bahasan yang paling penting dikaji oleh pelajar filsafat hikmah , ditambah dengan sederet tema baru yang dicetuskannya sendiri.

Lantas , apakah  kira-kira yang mendorong Allamah melahirkan bidayah dan nihayah sebagai alternatif atas teks-teks babon firsafat klasik ? Mri kita jelaskan sekilas pemikiran firsafat allamah thabathabai.Al- Thahrani, salah seorang murid allamah, menuturkan bahwa allamah selalu menunjukan takzim yang khusus kepada ibnu sina lantaran keunggulanya dalam menuangkan demonstrasi dan spekulasi filosofis di banding mulla shadra. Namun, pada saat yang sama, allamah mengagumi mulla shadra yang berhasil men-dekonstruksi filsafat yunani dan merekonstruksinya dalam bingkai yang lebih “islam “ di atas prinsip utama “ ashalah al-wujud” dan wahdah wa tasykik al-wujud” . melalui dua prinsip utama itu kemudian shadra mencetuskan sejumlah prinsip seperti “imkan al-asyraf” ,”ittihad al-‘aqil wa-ma’qul” ,”al-harakah al- jawhariyyah” , “ al-huduts al-zamani” ,”basith al-haqiqah kullu al-asy-ya” dan sebagainya.

Allamah percaya bahwa firsafat  mulla shadra lebih mendekati realitas ketimbang berbagai firsafat lain dan menganggapnya berhasil mengembangkan firsafat ketuhanan yang semula berkisar pada 200 tema menjadi 700 tema. Kekaguman allamah terhadap mulla shadra juga timbul dari keengganannya terseret arus aliran peripatetik yang melalui rasionalistik-spekulatif, dengan cara menemukan pola harmonisasi filsafat spekulasi mental dengan iluminasi batin dan penyaksian hati. Kedua metode itu pun lantas diintegrasikan shadra dengan syariat islam yang menyeluruh.

Kamis, 02 Januari 2014

Resume kitab Al-futuhat al-makkiya

Nama Buku: Al-futuhat Al-makkiyahbin abdullah
Pengarang  : IbnuAraby

Biografi Ibnu Araby
     Nama lengkapnya adalah abu bkr muhammad bin ali muhammad bin ahmad bin abdullah al-hatimi. Lahir di Mursiya di Andalusia pada malam senin tanggal 17 ramadhan tahn 560 H atau 28 juli 1165 M. Ibnu araby memiliki nama panggilan dengan abu bakr. Tetapi sebagian orang memanggilnya dengan abu abdillah sebagaimana yang dikutip dalam kitabnya Al-futuhat Al-makiyah. Dia mendapat gelar yang terkenal dengan Al-Syaikh Al-akbar(guru besar). Tetapi bnayk lagi gelar yang telah diberikannya dikalangan para sufi.
Ayahnya bernama Ali bin Muhammad, salah seorang ahli fiqih dan hadist serta ahli zuhud dan tasawuf. Araby menyebutkan kisah ayahnya dalam bukunya Al-futuhatnya, lima belas sebelum kematiannya ayahnya telah menggambarkan kepadanya  bahwa dia akan meninggal pada rabu dan hal itu benar terjadi sesuai yang dikabarkan.
Ibunya bernama Nur dari suku khulan. Dua saudara ibuynya yaitu yahya bin yaghain dan abu muslim al-khulani seorang tokoh tarekat malamatiyah. Kedunya terkenal dengan ahli zuhud dan ibadah. Sedangkan saudara ayahnya abdullah bin muhammad bin muhammad bin arabi dan dia juga dikenal seorang sufi pada zamannya.
Sedangkan istrinya bernama Maryam binti muhammad bin abdun bin abdurahim al-baja’i / seorang wanita solehah dan ahli mukasyafah, ibnu araby memujinya dalam kitab al-futuhatnya bahwa istrinya menguasai beberapa macam ilmu.
Ibnu araby memiliki dua anak laki-laki dan satu anak perempuan, kedua anak laki-lakinya bernama sa’duddin muhammad dan imaduddin abu abdillah, dan anak perempuannya bernama zaenab dia telah dikenal baik dikalangan umat islam karana ia telah mendapatkan ilham sejak kecil, bahwa ketika zaenab berumur dua tahun ketika ibunya dan neneknya berada disisinya, ibnu araby bertanya tentang bagaimanakah pendapatnya jika seorang suami menggauli istrinya sementara dia tidak mengeluarkan sperma. Dijawblah oleh zaenab bahwa laki-laki itu tetap harus mandi besar, orang-orang yang ada disinya takjub mendengarkannya.
Ibnu araby mengabiskan mas kecilnya di mursiyah, kemudian ia berangkat menuju kota sevile, ibu kota adalus pada tahun 568 H. Di stulah ia b elajar al qur’an dengan abu bakr muhammad bin khalaf al-khalafi dan abu al-khasim dan guru-gurunya yang lainnya diantaranya abu hasan syurayh bin muhammad syurayh dan Al-qadi bin aqbu muhammad.
Kitab Al-Futuhat Al-Makiyah
   Kitab al-futuhat al-makiyah mulai ditulis pada tahun 599 H di Mekah. Pada tahuin ini juga al-safar al-ahwal diselesaikan dua pasal terahir. Kitab naskah pertama selesai ditulis kemudian ibnu araby merapikannya pada tahun-tahun terahir masa hidupnya, kemudian menulis naskah yang kedua dengan tangannya sendiri dan menyelesaikannya pada tahun 636 H, dua tahun sebelum wafatnya. Di naskah yang kedua terdapat  beberapa tambahan yang tak tardapat dalam naskah yang pertama.sedangkan naskah pertama selesai ditulis pada tahun 629 H.
Sebagaimana pengakuan Abd Al-wahab sya’rani dalam kitab Al-kibrit Al-ahmar fi bayan al-sayikh al-akbar bahwa seluruh ilmu syaikh berdasarkan dengan penyingkapan dan makrifat serta disucikan dari keraguan dan penyimpangan. Hal ini juga bisa dilihat pada bab 367 darikitab al-futuhat. ‘’puji syukur kami tidak pernah betaklid kecuali pada pembawa syariat SAW. Sayhrani juga menukil pernyataan syaikh dalam penjelasan adzan “puji syukur pada Allah, saya tidak pernah menetapkan suatu perkara yang tidak disyariatkan dalam kitabku dan saya sama sekali tidak mengesampingkan Al-qur’an.
Syahrani juaga menukil perkataan ibnu araby pada bab ketiga ratus enam puluh enam, “ketahuilah bahwa seluruh yang kutulis dalam karyaku buakn dari hasil pikiran atau gagasan. Tetapi itu berasal dari hembusan dalam hatiku melalui tangan malaikatilham. “demi  Allah tidak ada satupun huruf yang telah kutulis melainkan dari pekdiktean illahi dan pemberian Rabbani atau hembusan ruhani dalam ruh keberadaanku. Inilah semua urusan, meskipun kami bukan seorang rosul yang membawa syaria’at dan bukan juga nabi yang memberikan taktif.

Kamis, 12 Desember 2013

Renungan malam

  selayaknya kita sebagai makhluk dimuka bumi ini lebih bisa  memposisikan diri kita dengan sebaik mungkin, janganlah kita bertindak sesuka hati kita tampa mlihat akibat dari apa yang kita lakukan ingatlah bahwa anda hidup didunia ini adalah sebagai kholifah sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-qur'an dan As-sunnah kita adalah makhluk yang beragama dan berbudi pekerti yang baik sudah seharusnya kita memberikan contoh kepada masyarakat sekitar atau hal layak sekitar.
  kita pasti mengetahui bahwa tindakan mengambil hak orng lain adalah peilaku yang sangat tidak baik tapi mengapa dijaman seperti ini masih banyak saja tindakan-tindakan seperti itu saya tidak faham dengan kemauan orang-orang dijaman sekarang dia tega bersenang-senang diatas penderitaan orang lain lantas buat apa ibadahnya selama ini, dia selalu meluangkan waktunya untuk ibadah dan mndatangi majlis-majlis atau bahkan menyumbang demi kebaikan.
  jadi jangan sia-siakan hidup kita yang singkat ini untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, gunakanlah waktu kita dengan sebaik mungkain dan gunakan untuk selalu mndekatkan diri kita pada sang khaliq buatlah orang-orang disekitar anda tersenyum dan bangga atas tindakan positifmu.
 Marilah kita saling menyeru dalam hal kebaikan dan saling mengingatkan satu sama lain kita yakin dengan kita petrsatukan ukhuwah islamiyah ini  kita akan selalu diberikan jalan kemudahan dan selalu berada dalam naungan sang ilahi.
 Amin ya robbal alamin

sekilas bersama Nur rahman nuak gagah

Senin, 09 Desember 2013

Akhlak beradab yang baik

Anak yang beradab kepada keluarganya
1-      Saudara laki-lakimu dan saudara perempeuanmu adalah seseorang yang dekat kepadamu, selain kedua orang tuamu, apabila kamu ingin kedua orang tuamu senang terhadapmu maka berbuat baiklah kepadanya dengan menghormati kakak laki-lakimu dan kakak perempuanmu, cintailah kedunya dengan cinta yang tulus, ikutilah nashat keduanya, dan sayangilah adik laki-lakimu dan adik perempuanmu cintailah keduanya juga dengan kecintaan yang baik, janganlah menyakiti keduanya dengan memukulnya atau mencaci maki keduanya, janganlah menyakitinya dan merusak mainanya karena perbuatan itu akan membuat kedua orang tuamu marah kepadamu.

2-      Demikian juga janganlah bertengkar (bercekcok) kepada saudara laki-lakimu dan saudara perempuanmu ketika kamu hendak masuk kamar mandi, berebut mainan, ketika hendak duduk diatas kursi dan karna sesuatu yang lain, tunjukanlah kesalahannya kepda saudaramu dengan cara baik-baik agar ia tidak melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya dan jauhilah banyak bergurau karena akan menyebabkan iri dengki dan bermusuhan.

Jumat, 06 Desember 2013


Kamis, 05 Desember 2013

pra makalah akhlak

Syarh Hadits Ke-16 Arbain An-Nawawiyyah: Jangan Marah..
Oleh Ustadz Abu Utsman Kharisman
(Syarh Hadits Ke-16 Arbain anNawawiyyah)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ [رواه البخاري]
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Berilah wasiat kepadaku”. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Janganlah engkau marah”. Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau: “Janganlah engkau marah”.
(HR. al-Bukhari)
PENJELASAN HADITS
Seorang laki-laki datang kepada Nabi dan meminta  diberi wasiat. Nabi mewasiatkan kepadanya untuk jangan marah. Hal itu diulangi beberapa kali, menunjukkan pentingnya wasiat tersebut. Hal tersebut menunjukkan bahwa menahan amarah memiliki kedudukan, manfaat, dan keutamaan yang tinggi. Sebagian ulama’ menyatakan bahwa wasiat Nabi disesuaikan dengan keadaan orang yang meminta wasiat. Orang yang meminta wasiat tersebut adalah seorang pemarah, maka Nabi memberikan wasiat kepadanya agar jangan marah.
Janganlah engkau marah”,  kata sebagian para Ulama’ mengandung 2 makna:
  1. Latihlah dirimu untuk senantiasa bersikap sabar dan pemaaf, jangan jadi orang yang mudah marah.
  2. Jika timbul perasaan marah dalam dirimu, kendalikan diri, tahan ucapan dan perbuatan agar jangan sampai terjadi hal-hal yang engkau sesali nantinya. Tahan diri agar jangan sampai berkata atau berbuat hal-hal yang tidak diridhai Allah.
    (disarikan dari penjelasan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di)
Marah Sumber Keburukan
Dalam hadits riwayat Ahmad, laki-laki yang meminta wasiat kepada Nabi itu berkata: “(kemudian aku memikirkan wasiat Nabi tersebut), ternyata kemarahan adalah mencakup keburukan seluruhnya”.
Jika seseorang marah dan tidak berusaha untuk mengendalikannya, ia akan berbicara atau berbuat di luar kesadaran sehingga nanti akan ia sesali. Betapa banyak kalimat talak diucapkan suami karena marah, dan setelah kemarahannya mereda ia sangat menyesal. Ada juga orangtua yang sangat marah kepada anaknya sehingga memukul dan menganiayanya, akibatnya anaknya menjadi cacat. Betapa banyak kemarahan menyebabkan hubungan persaudaraan menjadi putus, harta benda dirusak dan dihancurkan. Semua itu menunjukkan bahwa kemarahan yang tidak dikendalikan akan menyebabkan keburukan-keburukan.
Keutamaan Menahan Amarah
Menahan amarah adalah sebab memperoleh ampunan Allah dan surga-Nya:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan bersegeralah menuju ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang lebarnya (seluas) langit dan bumi yang disediakan bagi orang yang bertakwa, yaitu orang yang menginfakkan (hartanya) di waktu lapang atau susah, dan orang-orang yang menahan amarah, dan bersikap pemaaf kepada manusia, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”
(Q.S Ali Imran:133-134)
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لاَ تَغْضَبْ وِلَكَ الْجَنَّة
“Janganlah engkau marah, niscaya engkau mendapat surga
(HR at-Thobarony dan dishahihkan oleh al-Mundziri)