Pengantar
Allamah Muhammad husein
thabathabai (1321-1482 h/1904-2982 m) tak ayal lagi merupakan salah satu
tonggak yang berdiri dalam sejarah pemikiran islam. Siapa saja yang menampak
–tilas khazanah pemmikiran islam tentu dengan mudah akan menemukan Allamah
Thabathabai menyala terang disana.karya-karyanya membentang meliputi
tafsir,firsafat hikmah,hingga anotasi ensiklopedia hadis bihar al-anwar
menunjukan keluasan dan kedalaman ilmunya yang berasal dari Tabriz.tapi ,
keluasan dan kedalaman ilmunya sebenarnya kecil belaka bila dibandingkan dengan
karakter moral, sikap keulamaan dan prilaku asketik yang terpancar dari
kehidupan Allamah Thabathabai – suatu integritas yang tampak kian jauh dari
dunia kesarjanaan modern.
Kita
membahas dua karyanya dalam bidang firsafat, yakni Bidayah al-Hikmah dan
Nihayah al-Hikmah :
v BIDAYAH
DAN NIHAYAH
Menurut
kamal Haydari, salah satu langkah awal Allamah dalam melembagakan pendidikan
firsafat islam di hauzah qom ialah menyusun dua buku daras yang sejalan dengan
kaidah-kaidah filsafat al-hikmah al-muta’aliyah (baca: filsafat hikmah ).
Bidayah ditawarkan sebagai alternative atas Syarh Al-Manzhumah karya mulla hadi sabzawari dan
nihayah sebagai alternative atas Al-Asfar sama-sama merupakan merupakan buku
babon yang jauh berteleh-tele dan rinci ketimbang Bidayah dan Nihayah.
Untuk
melukiskan keberhasilan Allamah dalam konteks ini, kita dapat melihat bagaimana
nihayah yang dia tulis untuk merangkum 9 jilid Al-Asfar mampu dia tuangkan
dalam 330 halaman, dan itu artinya lebih ringkas dari satu jilid Al-Asfar.
Sementara Bidayah ditulisnya dalam 180
halaman, jauh lebih sedikit dari jumlah halaman syarh al-manzhumah .
menariknya, meski tidak mencakup seluruh tema penting yang terdedah dalam
al-asfar , bidayah dan nihayah berhasil merangkum pokok-pokok bahasan yang
paling penting dikaji oleh pelajar filsafat hikmah , ditambah dengan sederet
tema baru yang dicetuskannya sendiri.
Lantas
, apakah kira-kira yang mendorong
Allamah melahirkan bidayah dan nihayah sebagai alternatif atas teks-teks babon
firsafat klasik ? Mri kita jelaskan sekilas pemikiran firsafat allamah
thabathabai.Al- Thahrani, salah seorang murid allamah, menuturkan bahwa allamah
selalu menunjukan takzim yang khusus kepada ibnu sina lantaran keunggulanya
dalam menuangkan demonstrasi dan spekulasi filosofis di banding mulla shadra.
Namun, pada saat yang sama, allamah mengagumi mulla shadra yang berhasil
men-dekonstruksi filsafat yunani dan merekonstruksinya dalam bingkai yang lebih
“islam “ di atas prinsip utama “ ashalah al-wujud” dan wahdah wa tasykik
al-wujud” . melalui dua prinsip utama itu kemudian shadra mencetuskan sejumlah
prinsip seperti “imkan al-asyraf” ,”ittihad al-‘aqil wa-ma’qul” ,”al-harakah
al- jawhariyyah” , “ al-huduts al-zamani” ,”basith al-haqiqah kullu al-asy-ya”
dan sebagainya.
Allamah
percaya bahwa firsafat mulla shadra
lebih mendekati realitas ketimbang berbagai firsafat lain dan menganggapnya
berhasil mengembangkan firsafat ketuhanan yang semula berkisar pada 200 tema
menjadi 700 tema. Kekaguman allamah terhadap mulla shadra juga timbul dari
keengganannya terseret arus aliran peripatetik yang melalui
rasionalistik-spekulatif, dengan cara menemukan pola harmonisasi filsafat
spekulasi mental dengan iluminasi batin dan penyaksian hati. Kedua metode itu
pun lantas diintegrasikan shadra dengan syariat islam yang menyeluruh.













